Pemetaan partisipatif menempatkan warga sebagai sumber data utama. Alih-alih memulai dari citra satelit, tim kami memulai dari sketsa dan cerita warga tentang batas kebun, jalur sungai, dan area rawan banjir.
Kenapa data warga penting
Citra satelit memberi geometri, tetapi tidak memberi konteks. Batas administratif di lapangan sering berbeda dengan dokumen, dan hanya warga yang tahu riwayatnya. Menggabungkan keduanya menghasilkan peta yang tidak sekadar akurat secara koordinat, tetapi juga diterima secara sosial.
Alur kerja yang kami pakai
Sketsa warga difoto dan digeoreferensi, lalu titik-titik penting diverifikasi dengan GPS genggam. Hasilnya masuk ke geodatabase dengan skema atribut yang konsisten sehingga bisa dipakai lintas dinas tanpa konversi ulang.
Tahap terakhir adalah kartografi: simbologi disederhanakan agar peta tetap terbaca saat dicetak A3 hitam-putih di kantor desa — kondisi nyata yang sering dilupakan saat mendesain peta di layar.
Yang kami pelajari
Validasi berulang di lapangan lebih murah daripada memperbaiki peta setelah dipakai untuk pengambilan keputusan. Sisihkan waktu untuk satu putaran verifikasi tambahan sebelum peta difinalisasi.
Ada pekerjaan teknis yang sedang direncanakan?
Ceritakan lingkupnya. Kami bantu petakan kebutuhan dan langkah pertamanya.
Hubungi Kami
